Halaman

Rabu, 23 November 2011

6 minggu masa nifas

Masa nifas (puerperium) dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa ini berlangsung selama 6-8 minggu (Saifuddin et al, 2002). Asuhan selama periode nifas sangat diperlukan karena merupakan masa kritis baik bagi ibu maupun bagi bayi yang dilahirkannya. Diperkirakan bahwa 60% kematian ibu akibat kehamilan terjadi setelah persalinan, yang mana 50% kematian ibu pada masa nifas terjadi dalam 24 jam pertama. Di samping itu, masa tersebut juga merupakan masa kritis dari kehidupan bayi, karena dua pertiga kematian bayi terjadi dalam 4 minggu setelah persalinan dan 60% kematian bayi baru lahir terjadi dalam waktu 7 hari setelah lahir (Winkjosastro et al, 2002).
2. Tujuan Asuhan
Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologik. Mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana, menyusui, pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi sehat. Memberikan pelayanan keluarga berencana (Winkjosastro et al, 2002).
3. Program dan kebijakan teknis dalam asuhan masa nifas
Pada masa nifas dilakukan paling sedikit 4 kali kunjungan, hal ini dilakukan untuk menilai status ibu dan bayi baru lahir, dan untuk mencegah mendeteksi dan menangani masalah-masalah yang terjadi. Kunjungan pertama, dilakukan pada 6-8 jam setelah persalinan. Kunjungan ini dilakukan dengan tujuan mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri. Mendeteksi Universitas Sumatera Utara
dan merawat penyebab lain perdarahan, dan merujuk bila perdarahan berlanjut. Memberikan konseling kepada ibu atau salah satu anggota keluarga bagaimana mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri. Pemberian ASI awal, membantu melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir, juga menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermia (Winkjosastro et al, 2002).
Kunjungan kedua, dilakukan pada 6 hari setelah persalinan. Kunjungan ini dilakukan dengan tujuan untuk memastikan involusi uterus berjalan normal, yaitu uterus berkontraksi dan fundus di bawah umbilikus. Menilai adanya tanda-tanda infeksi atau perdarahan abnormal. Memastikan ibu mendapat cukup makanan, cairan dan istirahat. Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tak memperlihatkan tanda-tanda penyulit. Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi, tali pusat, menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi sehari-hari.
Kunjungan ketiga dilakukan pada dua minggu setelah persalinan, yang mana kunjungan ini tujuannya sama dengan kunjungan yang kedua. Setelah kunjungan ketiga maka dilakukanlah kunjungan pada 6 minggu setelah persalinan yang merupakan kujungan terakhir selama masa nifas, yang mana kunjungan ini bertujuan untuk menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit yang ia atau bayi alami, juga memberikan konseling untuk mendapatkan pelayanan KB secara dini (Saifuddin et al, 2002).
4. Perubahan- perubahan fisiologis yang terjadi selama nifas
Dalam masa nifas alat-alat genitalia interna maupun eksterna akan berangsur-angsur pulih kembali seperti keadaan sebelum hamil. Perubahan-perubahan alat-alat genitalia ini dalam
Universitas Sumatera Utara
keseluruhannya disebut involusi. Disamping involusi ini, terjadi juga perubahan penting lain, seperti timbulnya laktasi yang dipengaruhi oleh Lactogenic Hormone dari kelenjar hipofisis terhadap kelenjar-kelenjar mamma (Saifuddin et al, 2002).
Setelah janin dilahirkan fundus uteri kira-kira setinggi pusat; segera setelah plasenta lahir, tinggi fundus uteri kurang lebih 2 jari di bawah pusat. Uterus menyerupai suatu buah advokat gepeng berukuran panjang kurang lebih 15 cm, lebar kurang lebih 12 cm dan tebal kurang lebih 10 cm. Dinding uterus sendiri kurang lebih 5 cm, sedangkan pada bekas implantasi plasenta lebih tipis daripada bagian lain. Pada hari ke-5 postpartum uterus kurang lebih setinggi 7 cm di atas simfisis atau setengah simfisis pusat, sesudah 12 hari uterus tidak dapat diraba lagi di atas simfisis. Bagian bekas implantasi plasenta merupakan suatu luka yang kasar dan menonjol ke dalam kavum uteri, setelah persalinan. Penojolan tersebut, dengan diameter kurang lebih 7,5 cm, sering disangka sebagai suatu bagian plasenta yang tertinggal. Sesudah 2 minggu diameternya menjadi 3,5 cm dan pada 6 minggu telah mencapai 2,4 mm (Saifuddin, et al, 2002 & Mochtar, 1998).

6 hari masa nifas

Asuhan pada ibu nifas

1 year ago
  • Email
  • Favorite
  • Download
  • Embed

 
×

3 comments

Comments 1 - 3 of 3 comments Post a comment
Embed Video
Post Comment
Edit your comment Cancel

3 Favorites

Asuhan pada ibu nifas - Presentation Transcript

  1. IBU DALAM MASA NIFAS By Anjarwati
  2. MASA NIFAS
    • Masa antara kelahiran plasenta & membran yg menandai berakhirnya periode intra partum sampai waktu menuju kembalinya sistem reproduksi wanita tersebut kekondisi tidak hamil. ( Varney, H )
    • Periode pasca salin (6 mg) masa krisis kehidupan ibu & bayi
    • 60 % kematian ibu setelah persalinan
    • 50 % kematian masa nifas 24 jam pertama
    • 2/3 kematian bayi terjadi 4 mg stlh persalinan
    • Asuhan kebidanan yang tepat & efisien ibu & bayi pasca salin mengatasi masalah tersebut bidan perubahan fisik & psikologis ibu post partum
    • Peran bidan pelaksana:mandiri, kolaborasi, rujukan
  3. Perawatan dan hal-hal yang terjadi selama nifas : 1 . Genitalia interna dan eksterna 2. Suhu badan pasca persalinan 3. Nadi 4. Hemokonsentrasi 5. Laktasi 6. Mulas 7. Serviks, uterus dan adneksa 8. Lokia 9. Miksi 10. Defekasi 11. Latihan senam
  4. Standar 15 dalam SPK Pelayanan bagi ibu & bayi pada masa nifas:
    • Kunjungan rumah
    • PI karena ibu & bayi rentan infeksi
    • Pemeriksaan ibu & bayi
    • Anemia periksa hari ke 3 -5 (hemokonsentrasi)
    • KIE ASI, KB, perawatan diri & bayi, tanda bahaya
  5. KOMPETENSI V
    • Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi kepada ibu nifas dan menyusui serta tanggap terhadap budaya setempat
  6. Memberikan asuhan kebidanan kepada klien dalam masa nifas dengan melibatkan klien/keluarga: (mandiri)
    • 1). Mengkaji kebutuhan asuhan kebidanan pada ibu nifas
    • 2). Menentukan diagnosa & kebutuhan asuhan kebidanan pada ibu nifas
    • 3). Menyusun rencana asuhan bersama klien sesuai dengan prioritas masalah
    • 4). Melaksanakan asuhan kebidanan sesuai dengan rencana yang disusun
    • 5). Mengevaluasi asuhan yang telah diberikan bersama klien
    • 6). Membuat rencana tindak lanjut tindakan/layanan bersama klien
    • 7). Membuat catatan dan laporan asuhan kebidanan
  7. Memberikan asuhan kebidanan kepada ibu dalam masa nifas dengan resiko tinggi dan keadaa kegawatan yang memerlukan pertolongan pertama dengan tindakan kolaborasi melibatkan klien & keluarga (kolaborasi):
    • 1). Mengkaji kebutuhan asuhan pada ibu dalam masa nifas dengan kasus resiko tinggi dan keadaan yang memerlukan pertolongan pertama dan tindakan kolaborasi
    • 2). Menentukan diagnosa prognosa, proiritas sesuai dengan faktor resiko dan keadaan kegawatdaruratan
    • 3). Menyusun rencana asuhan dan tindakan ibu dalam masa nifas dengan pertolongan pertama seuai prioritas
    • 4. Melaksanakan asuhan kebidanan pada ibu dalam masa nifas dengan resiko tinggi dan memberikan pertolongan pertama seuai prioritas
    • 5). Mengevaluasi hasil asuhan dan pertolongan pertama
    • 6). Membuat rencana tindak lanjut bersama klien
    • 7). Membuat catatan dan laporan
  8. Memberikan asuhan kebidanan melalui konsultasi dan rujukan pada masa nifas dengan penyulit tertentu dengan melibatkan klien & keluarga (rujukan):
    • 1). Mengkaji adanya penyulit dan keadaan kegawatdaruratan pada ibu dalam masa nifas yang memerlukan konsultasi dan rujukan
    • 2). Menentukan diagnosa prognosa, prioritas
    • 3). Memberikan pertolongan pertama pada kasus yang memerlukan rujukan
    • 4). Mengirim klien untuk keperluan intervensi lebih lanjut kepada petugas/institusi pelayanan kesehatan yang berwenang
    • 5). Membuat catatan dan laporan serta dokumentasi seluruh kejadian dan intervensi
  9. PENGETAHUAN DASAR
    • Fisiologi nifas
    • Proses involusio
    • Proses laktasi
    • Nutrisi, kebutuhan istirahat, aktivitas & kebutuhan fisiologis lainnya
    • Nutrisi BBL
    • KIE
    • Asuhan komprehensif
  10. lanjutan
    • Adaptasi psikologis
    • Bonding attachment
    • Indikator subinvolusi :perdarahan, infeksi
    • Indikator masalah laktasi
    • Tanda & gejala mengancam kehidupan misal retensio plasenta, eklamsi, perdarahan dll
    • Indikator komplikasi tertentu:anemia, hematom vulva, retensi urin dll
  11. Keterampilan dasar
    • Mengumpulkan data riwayat kesehatan terfokus (kehamilan, persalinan)
    • Pemeriksaan terfokus
    • Pengkajian involusi, laktasi & penyembuhan luka jalan lahir
    • Merumuskan diagnosa masalah
    • Menyusun rencana
    • Memulai & mendukung ASI eksklusif
  12. Lanjutan
    • KIE perawatan diri, istirahat, nutrisi, asuhan BBL
    • Identifikasi hematom vulva
    • Identifikasi infeksi
    • Penatalaksanaan postpartum abnormal
    • KIE & konseling KB
    • Konseling pasca abortus
    • Kolaborasi,rujukan komplikasi tertentu
    • Memberi antibiotik
    • Mendokumentasikan asuhan
    • Keterampilan tambahan : insisi pada hematom vulva
  13. Manajemen kebidanan
    • Pendekatan menerapkan m etode dalam pemecahan masalah (pengkajian-evaluasi)/ pemberian asuhan kebidanan
    • Mengacu pola pikir Varney (1997)
  14. Asuhan Kebidanan
    • Penerapan fungsi dan kegiatan yg menjadi tanggungjawab dalam memberikan pelayanan kpd klien yang memiliki kebutuhan/masalah kesehatan: masa hamil, bersalin, nifas, BBl. Kb dll
    • Bentuk dokumentasi asuhan : SOAP
    • ( Subjektif Objektif Assassmen Plan) dengan pola fikir 7 langkah Varney
  15. Langkah Varney
    • Pengkajian ( data subjektif & objektif)
    • Interpretasi data
    • Diagnosa potensial
    • Antisipasi/ tindakan segera
    • Rencana tindakan
    • Tindakan
    • Evaluasi
  16. SOAP
    • Data Subjektif (terfokus)
    • Data Objektif (terfokus)
    • Assessment
    • Plan ( rencana, tindakan, evaluasi)
  17. Monitoring Post Partum
    • Sangat penting karena sering terjadinya kematian
    • Pengawasan dalam 2 -6 jam pertama meliputi :
      • Perdarahan
      • Laktasi
      • Eklamsi
  18. Kunjungan 6 jam
    • - Mencegah perdarahan masa nifas krn atonia uteri
    • - Mendeteksi dan melakukan tindakan penyebab lain seperti perdarahan : rujuk jika perd berlanjut
    • - Memberikan konseling pd ibu / kel mencegah perdarahan
    • - Pemberian ASI awal
    • - Mengajarkan mobilisasi
    • - Membantu untuk mencoba BAK sendiri
    • - Melakukan hubungan antara ibu dan BBL
    • - Menjaga bayi tetap sehatdg cara mencegah hipotermi
    • - Petugas kes yg menolong persalinan hrs tinggal 2 jam pertama setelah kelahiran dg memantau vital sign
  19. Kunjungan 6 hari
    • Memantau KU, Kesadaran,Vital Sign
    • Memastikan involusi uterus berjalan normal
    • Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi/ perdarahan abnormal
    • Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan dan istirahat
    • Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak memperlihatkan tanda-tanda penyulit
    • Memberikan konseling asuhan pada bayi
    • Memantau gangguan emosinal
    • Memperhatikan hubungan/respon suami/ keluarga
    • Memotivasi untuk memberi nama Islami, aqiqoh jika mampu, mencukur rambut dll
  20. Konseling sebelum kembali ke rumah
    • Asuhan untuk ibu dan bayi secara islami
    • Nutrisi ibu dan bayi
    • Personal Higiene khususnya genetalia
    • Teknik menyusui
    • Pola istirahat/tidur
    • Dampingan suami/keluarga
    • Respon ibu dan ayah dengan bayi
    • Immunisasi
    • Keluarga Berencana
    • Kelanjutan aktivitas hubungan sex
    • Tanda bahaya ibu dan bayi
  21. Kunjungan 6 minggu
    • Asuhan seperti 6 hari masa nifas
    • Menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit yang ia atau bayi alami
    • Memberi konseling untuk ber KB secara dini
    • Memberi konseling untuk melakukan hubungan suami istri bila menghendaki